Penggiat Seni...

Bicara Seni


ShoutMix chat widget
Showing posts with label EDU 3108. Show all posts
Showing posts with label EDU 3108. Show all posts

Thursday, September 30, 2010

EDU 3108 - [kepimpinan guru 1]

Definisi

i. Definisi Kepimpinan

a. Kepimpinan dari segi bahasa dan istilah

Kepimpinan mengikut Kamus Dewan adalah terbitan daripada “pimpin” membawa erti “bimbing”, “pandu” atau “tunjuk”. Memimpin diberi erti sebagai memegang tangan dan membawa berjalan menuju sesuatu tempat. Kepimpinan membawa erti keupayaan memimpin.

Kepimpinan dari segi Pendidikan

· Dalam hal ini, Hadari Nawawi mengemukakan pengertian kepimpinan pendidikan dan kepimpinan sekolah sebagai berikut: "Kepimpinan sekolah adalah proses menyatukan buah fikiran dan pendapat untuk mewujudkan menjadi kesatuan gerak yang terarah pada pencapaian matlamat persekitaran, kakitangan sekolah, yang didalamnya terkandung makna menggerakkan, memotivasi orang lain dan kelompok agar bersedia melakukan tugas-tugas sebagai rakan kerja di sekolah"

· Ahmad Rohani H.M dan Hijrah Abu Ahmadi mentakrifkan kepimpinan Pendidikan sebagai berikut: "Kepimpinan Pendidikan iaitu muat kegiatan mempengaruhi, menggerakkan dan menyelaras individu-individu organisasi atau institusi tertentu untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan".

Daripada definisi-definisi di atas, dapatlah dirumuskan definisi kepimpinan pendidikan sebagai satu kemampuan dan muat mempengaruhi, menyelaras dan menggerakkan orang-orang lain yang ada hubungan dengan pembangunan ilmu pendidikan dan pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, agar kegiatan-kegiatan dijalankan boleh lebih berkesan dan cekap di dalam pencapaian tujuan-tujuan pendidikan dan pengajaran.

ii. Definisi Pengurusan Sekolah

· Menurut Stephen J. Knezevich, Pengurusan Sekolah adalah suatu proses yang terdiri dari usaha mencipta, memelihara, merangsang, dan mempersatukan semua daya yang ada pada suatu organisasi pendidikan agar tercapai tujuan yang telah ditentukan lebih dulu.

· Manakala menurut Albert Shuster, Pengurusan Sekolah didefinasikan sebagai integrasi seni dan ilmu secara kreatif idea-idea, material, dan orang dalam satu kesatuan organik atau unit yang bekerja secara harmoni untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Daripada definisi-definisi di atas, dapatlah dirumuskan definisi pengurusan sekolah sebagai segala usaha yang dijalankan oleh sesuatu organisasi pendidikan untuk memenuhi matlamat dan tujuan tertentu disamping menyelenggarakan dan mengekalkan struktur organisasi pendidikan tersebut.

Pendekatan sifat-sifat kepimpinan dan perilaku kepimpinan.

a. Pendekatan sifat-sifat kepemimpinan

Untuk memperoleh kemampuan dalam dalam kepimpinan diperlukan sejumlah sifat-sifat yang baik dan tepat, tetapi untuk sejumlah sifat-sifat tersebut tidaklah cukup untuk memperoleh sifat pemimpin. Kerana sifat-sifat itu harus diterapkan dalam praktek pada waktu dan keadaan yang tepat pula. Disamping itu diperlukan pula adanya bawahan atau sekumpulan orang yang mencari kepimpinannya. Sifat-sifat kepimpinan itu mencakupi : pengetahuan, kecerdasan, imaginasi, kepercayaan diri, integrasi, kepandaian berbicara, pengendalian dan keseimbangan mental dan emosional, pergaulan sosial dan persahabatan, dorongan, entusiasme dan keberanian.

b. Pendekatan perilaku kepimpinan

Pendekatan perilaku akan menentukan apa yang dilakukan oleh para pemimpin efektif, bagaimana mereka mendelegasikan tugas, bagaimana mereka berkomunikasi dan memotivasi bawahan mereka, bagaimana mereka menjalankan tugas. Tidak seperti pendekatan sifat, pendekatan perilaku dapat dipelajari atau dikembangkan sehingga individu-individu dapat dilatih dengan perilaku kepimpinan yang tepat agar mampu memimpin dengan efektif. Pendekatan perilaku memusatkan perhatiannya pada dua aspek perilaku kepimpinan iaitu :

b.i Fungsi Kepimpinan

Kepimpinan yang efektif hanya dapat wujud apabila dijalankan sesuai dengan fungsinya. Fungsi pemimpin ini berhubungan langsung dengan keadaan sosial dalam kehidupan kelompok atau organisasi masing-masing yang mengisyaratkan bahawa setiap pemimpin berada di dalam dan bukan di luar keadaan itu. Pemimpin harus berusaha agar menjadi sebahagian di dalam situasi sosial kelompok/organisasinya.

Pemimpin yang membuat keputusan dengan memperhatikan situasi sosial kelompok/organisasinya, akan dirasakan sebagai keputusan bersama yang menjadi tanggung jawab bersama pula dalam melaksanakannya. Dengan demikian akan terbuka peluang bagi pemimpin untuk mewujudkan fungsi-fungsi kepimpinan sejalan dengan situasi sosial yang dikembangkannya.

Fungsi kepimpinan itu memiliki dua dimensi sebagai berikut :

v Dimensi yang berkenaan dengan tingkat kemampuan mengarahkan (direction) dalam tindakan atau aktiviti pemimpin, yang terlihat pada pandangan orang-orang yang dipimpinnya.

v Dimensi yang berkenaan dengan tingkat dukungan (support) atau keterlibatan orang-orang yang dipimpin dalam melaksanakan tugas tugas pokok kelompok/organisasi, yang dijabarkan dan dimanifestasikan melalui keputusan-keputusan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan pemimpin.

Berdasarkan kedua dimensi itu, selanjutnya secara operasional dapat dibahagikan kepada lima fungsi asas kepimpinan. Lima fungsi kepimpinan tersebut adalah :

· Fungsi Instruktif

Pemimpin sebagai pengambil keputusan berfungsi memerintahkan pelaksanaannya pada orang-orang yang dipimpin. Pemimpin sebagai komunikator merupakan pihak yang menentukan apa (isi perintah), bagaimana (cara mengerjakan perintah), bila (waktu memulai, melaksanakan dan melaporkan hasilnya), dan dimana (tempat mengerjakan perintah) agar keputusan dapat diwujudkan secara efektif.

· Fungsi Konsultatif

Pemimpin kerapkali memerlukan bahan pertimbangan yang mengharuskannya berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya. Konsultasi dapat pula dilakukan melalui arus sebaliknya, yakni dari orang-orang yang dipimpin kepada pemimpin yang menetapkan keputusan dan memerintahkan pelaksanannya. Hal ini berarti fungsi ini berlangsung dan bersifat komunikasi dua arah, meskipun pelaksanaannya sangat tergantung pada pihak pemimpin.

· Fungsi Partisipasi

Fungsi ini bererti kesediaan pemimpin untuk tidak berlepas tangan pada saat-saat orang yang dipimpin melaksanakan keputusannya. Pemimpin tidak boleh sekedar mampu membuat keputusan dan memerintahkan pelaksanaannya, tetapi juga ikut dalam proses pelaksanaannya, dalam batas-batas tidak menyimpang dan mengganti petugas yang bertanggung jawab melaksanakannya.

· Fungsi Delegasi

Fungsi ini mengharuskan pemimpin memilih tugas pokok organisasinya dan menilai yang dapat dan tidak dapat untuk diberikan kepada orang-orang yang dipercayainya. Fungsi delegasi pada dasarnya bererti kepercayaan. Pemimpin harus bersedia dan dan dapat mempercayai orang lain sesuai dengan jawatan/jabatannya.

· Fungsi Pengendalian

Pemimpin mampu mengatur aktiviti anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimum.

b.ii Gaya kepimpinan

Pandangan kedua tentang perilaku kepimpinan ini memusatkan pada gaya kepimpinan dalam hubungannya dengan bawahan. Menurut Nasution (2004) Gaya kepimpinan adalah suatu cara yang digunakan pemimpin dalam berinteraksi dengan bawahannya. Gaya kepimpinan ini pada gilirannya merupakan dasar dalam mengklasifikasikan jenis kepemimpinan. Gaya kepimpinan memiliki tiga corak dasar, yaitu :

· Gaya kepimpinan yang mementingkan pelaksanaan tugas secara efektif dan efesien, agar mampu mewujudkan tujuan secara maksimal.

· Gaya kepimpinan yang mementingkan pelaksanaan hubungan kerja sama.

· Gaya kepimpinan yang mementingkan hasil yang dapat dicapai dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi. Disini pemimpin menaruh perhatian yang besar dan memiliki keinginan yang kuat, agar setiap anggota berprestasi sebesar-besarnya.

Ketiga corak dasar perilaku kepimpinan dalam praktik tidak terjadi terpisah-pisah. Pemisahan sebagaimana tersebut diatas dimaksudkan sebagai uraian teoritis, yang akan membawakan kepada kategori kepimpinan menjadi lima kategori asas dalam kepimpinan. Kepimpinan yang efektif tidak mungkin wujud dengan mengunakan salah satu jenis kepimpinan secara murni. Arifin (2005) kelima jenis kepimpinan tersebut adalah :

v Kepimpinan Autokratik

Kepimpinan ini menempatkan kekuasaan di tangan satu orang atau sekelompok kecil orang yang diantara mereka tetap ada seseorang yang paling berkuasa. Pemimpin bertindak sebagai penguasa tunggal. Kedudukan bawahan semata-mata sebagai pelaksana keputusan, perintah dan bahkan kehendak pemimpin. Pemimpin memandang dirinya lebih dalam segala hal, dibandingkan dengan bawahannya. Perintah pemimpin tidak boleh dibantah, kerana dipandang sebagai satu-satunya yang paling benar. Oleh karena itu tidak ada pilihan lain bagi bawahan selain tunduk dan patuh di bawah kekuasaan sang pemimpin. Kekuasaan pemimpin digunakan untuk menekan bawahan, dengan mengunakan tindakan atau hukuman sebagai alat utama.

v Kepimpinan Paternalistik

Jenis kepimpinan ini lebih mengutamakan kebersamaan. Jenis ini memperlakukan semua satuan kerja yang terdapat dalam organisasi dengan seadil dan serata mungkin.

v Kepimpinan Karismatik

Dalam jenis ini pemimpin mempunyai kemampuan menggerakkan orang lain dengan mendayagunakan keistimewaan atau kelebihan peribadi yang dimiliki oleh pemimpin, sehingga menimbulkan rasa hormat, segan dan patuh pada orang-orang yang dipimpinnya. Adapun keistimewaan keperibadian yang umum dimiliki kepimpinan jenis ini adalah akhlak yang terpuji.

v Kepemimpinan bebas (Laissez Faire)

Dalam kepimpinan ini, pemimpin berkedudukan sebagai simbol. Kepimpinan dijalankan dengan memberikan kebebasan penuh pada orang yang dipimpin dalam mengambil keputusan dan melakukan kegiatan (berbuat) menurut kehendak dan kepentingan masing-masing, baik secara perseorangan maupun berupa sekumpulan kecil. Pemimpin hanya menjadikan dirinya sebagai penasehat, yang dilakukan dengan memberi kesempatan untuk berkerjasama atau bertanya bagi anggota kelompok yang memerlukannya. Dalam kepimpinan ini apabila tidak ada seorangpun dari anggota kumpulan atau bawahan yang mengambil inisiatif untuk menetapkan suatu keputusan maka tidak ada aktiviti/kegiatan organisasi.

v Kepimpinan Demokratik

Jenis kepimpinan ini menempatkan manusia sebagai faktor utama dan terpenting dalam setiap kumpulan/organisasi. Proses kepimpinan diwujudkan dengan cara memberikan kesempatan yang luas bagi anggota kumpulan/organisasi untuk turut serta dalam setiap kegiatan. Setiap angota kumpulan tidak saja diberi kesempatan untuk aktif, tetapi juga dibantu dalam mengembangkan sikap dan kemampuannya memimpin. Keadaan ini memungkinkan setiap orang siap untuk dinaikkan menduduki jabatan pemimpin secara berperingkat, bilamana terjadi kekosongan jawatan.

Kepimpinan Demokratik adalah kepimpinan yang aktif, dinamik dan terarah. Kegiatan-kegiatan pengendalian dilaksanakan secara tertib dan bertanggung jawab. Pembahagian tugas yang disertai arahan dan butiran tanggung jawab yang jelas membuatkan setiap angoota turut serta secara aktif. Dengan kata lain setiap anggota mengetahui secara pasti sumbangan yang dapat diberikan untuk mencapai tujuan organisasinya.

EDU 3108 - [kepimpinan guru]

GURU SEBAGAI PEMIMPIN

1) Mafhum hadis;

“Setiap dari kamu adalah pemimpin, dan kamu adalah bertanggungjawab ke atas orang yang dipimpin”

2) Definisi Kepimpinan

  1. Kepimpinan adalah suatu proses menggerakkan sekumpulan manusia menuju ke suatu arah yang telah ditentukan melalui dorongan yang tidak memaksa.
  2. Kepimpinan yang baik menggerakkan manusia untuk memenuhi kehendak jangka panjang.
  3. Kepimpinan adalah suatu peranan dan proses mempengaruhi orang lain. Pemimpin adalah sebahagian daripada ahli kumpulan yang diberi kedudukan tertentu dan dijangka bertindak sesuai dengan kedudukannya

3) Kualiti Guru Sebagai Pemimpin

  1. Memahami jiwa pelajar dan tahu menarik perhatian mereka dengan kelakuan yang baik dan mulia, tetapi bukannya merendah diri.
  2. Tegas tetapi bukan diktator
  3. Lemah lembut tetapi bukannya lembut
  4. Boleh mengajar dengan menarik, bukan kelakar.
  5. Mempunyai ilmu pengetahuan, tetapi tidak angkuh.

4) Guru dan Ciri-Ciri Kepimpinan

Berdasarkan pandangan al-Farabi, Ibnu Khaldum, al-Ghazali dan Prof. Dr. Hamka, dapat dirumuskan tentang ciri-ciri pemimpin Islam:

1. Taqwa kepada Allah

2. Sihat tubuh badan

3. Berpengetahuan luas

4. Mempunyai keyakinan untuk mencapai tujuan.

5. Memiliki stamina bekerja

6. Rajin berusaha

7. Suka berkerjasama

8. Peramah

9. Menjalin dan mempertahankan kebenaran

10. Penyabar (menghadapi kerenah pelajar)

11. Suka menghubungkan silaturrahim

12. Tidak gentar, atau berani di atas kebenaran

13. Pintar dan fasih berbicara (al-Farabi: Pandai berpidato)

14. Kuat pendirian

15. Melaksanakan apa yang dikatakan

16. Tidak membezakan orang (pelajar) dalam pergaulan

17. Suka memberi dan menerima nasihat

18. Berpakaian kemas dan bersih

19. Rendah hati

20. Ikhlas

21. Cepat memberi keputusan

22. Berfikir secara rasional, bukan dengan emosi

23. Adil

24. Tahan dikritik

25. Bertimbangrasa dan

26. Memiliki sedikit ilmu jiwa secara umum

EDU 3108 - [peranan guru sekolah rendah]

  1. GURU DAN ALAM PENDIDIKAN
  2. • profesion yang paling mendapat tempat di kalangan rakyat Malaysia. • tahun 1999 sahaja jumlah guru yang terdapat di Malaysia ialah kira-kira 157, 415 orang manakala jumlah pelajar pula ialah 2,897,927 orang. • tahun 2000, terdapat lebih dari 200,000 orang guru di negara kita
  3. Guru sebagai pengamal ilmu • Sebagai pengamal ilmu, seseorang guru mempunyai peranan serta tugas yang amat berat, rumit dan mencabar. Pembangunan insan dan negara terletak di atas pundak kaum guru. • Dalam era ledakan teknologi maklumat dan pada ketika dunia kini menjadi sebuah ‘global village’, tuntutan terhadap ilmu pengetahuan menjadi semakin mendadak. • Justeru itu, guru-guru perlu dan harus sentiasa mengemaskinikan serta mempertingkat ilmu pengetahuan masing-masing.
  4. • Dalam perkembangan berkaitan, Islam bukan sekadar menganjurkan umatnya mencari atau menuntut ilmu malah penyebaran ilmu juga menjadi satu kewajipan. Shahril @ Charil Marzuki, et. al. (1993) menegaskan guru sebagai pengamal ilmu, mempunyai peranan serta tanggungjawab sosial iaitu: (c)perancang, fasilitator dan pengurus pembelajaran; (d)penyampai ilmu pengetahuan; (e)pembentuk akhlak; (f) pembimbing; (g)contoh teladan atau model.
  5. • Menurut Mohd. Idris Jauzi (1990) untuk membolehkan para pendidik memainkan peranan berkesan dan positif sebagai pengamal dan penyampai ilmu, guru haruslah secara berencana dan berterusan: (c)mempersiapkan diri dari segi keilmuan; (d)berusaha membersihkan diri dari segi sahsiah menerusi ibadah-ibadah asas; (e)meningkatkan kecekapan, ketajaman dan ketrampilan diri dalam pelaksanaan tugas dan interaksi dengan masyarakat; (f) melaksanakan tugas keguruan dengan sebaiknya; (g)menawarkan khidmat bakti dan kepimpinan dalam kehidupan bermasyarakat; (h)menjadikan sekolah selaku gedung ilmu dan jemaah ilmuan sebagai pusat pendidikan anggota masyarakat.
  6. • Guru atau para pendidik juga seharusnya mempunyai dedikasi dan komitmen terhadap profesion serta tanggunggungjawab moral mereka sebagai seorang guru. • Mengikut Jujun S. Suriasumantri (1990) sebagai seorang pengamal ilmu, seseorang guru harus mempunyai tanggungjawab profesional yang mencukupi asas kebenaran, kejujuran, tanpa kepentingan langsung, menyandarkan kekuatan penghujahan, rasional, objektif, kritis, terbuka, pragmatis, dan neutral dari nilai-nilai yang bersifat dogmatik dalam menafsirkan hakikat realiti.
  7. Guru sebagai pengamal kemahiran • Guru harus mempunyai kemahiran dan mempunyai sijil bertauliah daripada latihan ikhtisas yang diiktiraf. Justeru, guru yang memperolehi kemahiran profesional adalah guru yang bertauliah dan cekap menjalankan tugas-tugas seperti pengajaran, bimbingan, aktiviti kokurikulum berlandaskan teori pendidikan.
  8. (a) Kemahiran belajar - kebolehan menerima isyarat dengan tepat, memproses maklumat yang diterima, menyimpannya dalam stor ingatan dan mengaplikasikan untuk menyelesaikan masalah. (b) Kemahiran berfikir - kecekapan menggunakan akal untuk menjalankan proses-proses pemikiran seperti banding-beza, menghuraikan dan lain-lain. (c) Kemahiran pemudah cara - fasilitator yang membimbing, memotivasi serta menggerakkan orang lain.
  9. (d) Kemahiran mengajar - membentuk aktiviti pengajaran yang sistematik, menarik dan berkesan. (e) Kemahiran merancang - menentukan objektif pelajaran, memilih isi pengajaran, memilih strategi dan kaedah pengajaran, merancang aktiviti pengajaran pembelajaran, memilih dan menyediakan pelajaran serta menyediakan dan mengurus kemudahan untuk menjalankan aktiviti pengajaran.
  10. (f) Kemahiran berkomunikasi - secara lisan atau bertulis. (g) Kemahiran mengurus - mengurus bilik darjah, murid, kemudahan fizikal, bahan-bahan pengajaran dan sebagainya. (h) Kemahiran menilai - mengumpul maklumat tentang strategi dan aktiviti pengajaran dan pembelajaran. (I) Kemahiran ICT - menggunakan teknologi maklumat.
  11. Guru sebagai pembentuk nilai • Nilai adalah penting kerana ia memberi panduan dalam kehidupan. • Nilai dapat memotivasikan hidup manusia untuk hidup dengan cara yang betul. • Guru harus membentuk murid-murid untuk memiliki akhlak yang mulia dan menjadi insan yang mempunyai nilai-nilai murni yang tinggi. • Guru berperanan menyerbakan nilai bahkan perlu menjadi rote model yang akan diteladani oleh para murid serta orang di sekelilingnya.
  12. Guru sebagai pendidik  Tugas guru adalah mendidik iaitu: (b)Memberi ilmu – mengajar, menyampai maklumat, berbincang, mengendalikan bengkel dan sebagainya. (c)Mendedahkan pengalaman – guru perlu mendedahkan murid-murid dengan pengalaman- pengalaman tertentu seperti pengembara, mengelola majlis. (d)Mendidik murid berakhlak mulia – mendidik termasuk dari segi akhlak, penampilan diri melalui pembelajaran seperti pendidikan moral.
  13. Guru sebagai agen sosialisasi • Perlu memupuk sikap, nilai dan sahsiah murid-murid yang sempurna selaras dengan kehendak masyarakat. • Guru mempunyai hubungan yang rapat dengan masyarakat dan boleh menggunakan statusnya untuk menyebarkan nilai-nilai positif kepada ahli masyarakat.
  14. Guru sebagai agen perubahan • Mengubah daripada stail pengurusan dan kepimpinan yang bersifat autokratik kepada demokratik. • Perlu berasaskan perkara-perkara berikut: - Mengubah daripada strategi pemusatan guru kepada pemusatan murid. - Mengamalkan sifat penyayang terhadap pelajar, rakan sejawat, ketua, staf sokongan dan sekolah. - Bersikap terbuka secara proaktif dan bersedia untuk menghadapi perubahan khususnya dalam bidang pendidikan.
  15. Guru sebagai pembina negara  Insan guru dapat membantu pembentukan masyarakat dan menjadi kerangka kepada pembentukan negara.  Guru harus berakhlak mulia, mempunyai semangat berjuang tinggi, mempunyai ketahanan fizikal dan bermanfaat kepada diri, keluarga, masyarakat serta negara.  Guru juga harus menyesuaikan diri dalam semua keadaan dan mampu menangani cabaran era globalisasi untuk menolong membentuk masyarakat Malaysia yang berakhlak mulia.
  16. Guru sebagai penyebar ilmu • Bertanggungjawab menyebarkan ilmu pengetahuan dan kemahiran kepada murid. • Memupuk nilai budaya ilmu supaya menjadi teladan bagi murid-murid mencontohi serta membentuk budaya ilmu sebagai ciri utama dalam kehidupan mereka. • Mewujudkan budaya ilmu di kalangan guru dan murid sejajar dengan salah satu pernyataan yang terkandung dalam Falsafah Pendidikan Kebangsaan. • Melahirkan generasi yang mencintai ilmu pengetahuan.
  17. Guru sebagai penyayang • Prihatin, berminat, bertimbang rasa, menjaga, memikir dan memberi perhatian terhadap permintaan, pandangan, kebajikan, keperluan dan kebahagiaan murid-muridnya. • Menyukai dan menyayangi kanak-kanak. • Berminat mengajar, berdedikasi dan melaksanakan • aktiviti P & P dengan bersungguh-sungguh. • Dapat melahirkan murid yang mempunyai kepimpinan cemerlang melalui pendedahan hidup masyarakat.
  18. Guru sebagai pakar rujuk • Mempunyai kemahiran ikhtisas dan menguasai ilmu pengetahuan. • Menunjukkan sikap jujur serta mewujudkan interaksi positif pelbagai hala. • Menggunakan pelbagai kaedah dan teknik yang memudahkan murid menjalankan aktiviti pengajaran mereka.
  19. Guru sebagai mentor • Menolong memberikan penyelesaian masalah kepada murid dengan cepat dan berkesan. • Juga harus mempunyai kemahiran mendengar dengan baik iaitu memahami situasi atau keadaan yang dialami murid-muridnya. • Juga perlu mempunyai sifat dan kualiti seperti bersopan santun, menghormati pandangan murid, peramah, rendah hati, jujur, semangat berbakti, prihatin dan sebagainya.
  20. Guru sebagai pengurus • Mengurus rutin bilik darjah. • Mengurus murid-murid supaya menjalankan tugasan harian. • Mengurus murid-murid supaya mematuhi peraturan bilik darjah. • Mengurus keadaan fizikal bilik darjah. • Mengurus aktiviti kumpulan.
  21. Guru sebagai penyelidik • Menyelesaikan masalah yang mungkin dihadapi oleh murid. • Mengubah dan menyesuaikan strategi P & P dapat menarik perhatian murid. • Sentiasa membuat dan menjalankan refleksi kendiri bagi memperbaiki kelemahan dalam P & P.
  22. Guru sebagai pengamal reflektif • Sentiasa membuat pertimbangan dan pemikiran yang mendalam sebelum merancang sesi-sesi pengajaran. • Supaya murid-murid memperolehi kemahiran berfikir kritis dan kreatif yang tinggi dalam semua aktiviti pengajaran dan pembelajaran.
  23. Kesimpulan • Pendidikan merupakan pelaburan yang penting dalam sesebuah Negara. • kualiti generasi di masa hadapan sebahagian besarnya terletak di tangan guru-guru.

EDU 3108 - [peringkat perkembangan guru]

Teori 5 Peringkat Perkembangan Guru
- Peringkat novis
- Peringkat novis lanjutan
- Peringkat cekap
- Peringkat mahir
- Peringkat pakar


Cabaran Guru Permulaan

- Dikatakan pasif, tak kreatif dan imaginative
- Belum mencapai tahap yang dikehendaki pihak sekolah
- Masalah penyesuaian diri dengan reality sekolah dan bilik darjah.
- Mula mengaplikasikan kaedah mengajar
- Memahami fakta, konsep dan perkara asas pengajaran
- Membentuk kerangka kognitif tugas-tugas guru
- Kurang berupaya menangani tugas harian guru


Guru Cekap :
- Ada kecekapan pada tahap minimum
- Guru mula kenali lebih banyak prinsip, konsep dan elemen dengan merujuk situasi khusus.
- Guru memiliki kemampuan menyelesaikan masalah PNP.

Guru Mahir
- Terbaik dalam bidang
- Menjadi teladan profesionalisme
- Terlibat sepenuhnya dalam kokurikulum


Guru Pakar
- Menyerlahkan diri secara profesionalisme
- Idea dan kemahirannya boleh mempengaruhi polisi pengendalian bilik darjah.
- Dianggap sebagai bidang yang berautoriti bercakap dalam bidang profesionalnya.

Teori Perkembangan Guru

Berliner (1988) telah mengemukakan model lima peringkat perkembangan guru yangmemberi fokus terhadap pemikiran guru berdasarkan tingkah laku guru dalam bilikdarjah. Model perkembangan Berliner (1995) mentafsir perkembangan guru sebagai “satuproses menuju ke arah pembentukan guru untuk mencapai tahap kepakaran dankecemerlangan” (Sani dan Norzaini, 2007, 218). Peringkat perkembangan dalam ModelBerliner adalah seperti berikut:

Peringkat 1 – Peringkat permulaan ataunovice

Guru novis mempelajari fakta dan menimba pengalaman serta diajar peraturan

umum yang dikatakan sesuai untuk semua konteks;

Peringkat 2 – Peringkat lebih maju atau advanced beginner

Guru yang mempunyai pengalaman mengajar selama dua atau tiga tahun.Pengalaman dan konteks masalah mula membimbangi dan mempengaruhi tingkahlaku guru;

Peringkat 3 – Peringkat cekap ataucom pet ent

Guru mampu membuat pilihan secara sedar tentang tindakan, membuat keutamaandan membuat perancangan. Berdasarkan pengalaman yang diperoleh, gurumenjadi lebih peka terhadap perkara yang penting ataurem eh . Namun, kemahiranmengajar masih lagi kaku dan tidak fleksibel;

Peringkat 4 – Peringkat mahir atauproficient

Terdiri daripada guru yang berpengalaman mengajar selama lima tahun. Guruboleh mengesan maklumat yang wujud dalam semua konteks dan situasi sertamampu membuat ramalan tentang sesuatu kejadian dengan cepat; dan

Peringkat 5 – Peringkat pakar atauexpert

Bukan semua guru mampu untuk mencapai tahap ini. Pengajaran guru adalah

lancar dan segala tugas dapat dilaksanakan dengan mudah.

Menurut model ini, seseorang guru perlu melalui beberapa peringkat dalam

kerjayanya sebelum ia dapat mencapai ke tahap kepakaran atau kecemerlangan



Related Posts with Thumbnails